::-webkit-scrollbar { height:15px; width: 15px; background: #e6e6fa; } ::-webkit-scrollbar-thumb { background-color: #1F61DB; -moz-border-radius: 12px; border-radius: 12px; }

SEBUAH CERITA MASA LAMPAU

kenangan hanya akan membuat kita tolol ketika mengingat nya.

Rabu, 15 Agustus 2012

Keledai dan Rubah


Apa yang terjadi bila Sang Raja Rimba terluka dan tidak bisa mencari mangsa? Binatang-binatang lain yang malas berburu dan sudah terbiasa makan apa yang disisakan oleh Sang Raja tentu saja ikut menderita pula.

Rubah mendekati Singa, Sang Raja Rimba:
"Apa yang dapat saya lakukan, Baginda?"

"Badanku lemas. Sudah beberapa hari aku terpaksa berpuasa. Bila engkau bisa mencari seekor keledai saja... Setelah memakannya, aku pasti segar lagi. Sehat kembali."

"Baiklah, Baginda. Saya akan mencari keledai. Dengan kelicikan saya, mestinya saya bisa membawanya kemari. Seterusnya, Baginda Harus menerjang dia."

Dan si Rubah pun langsung berangkat mencari seekor keledai. Kebetulan sekali, tidak jauh dari rimba tinggal seorang dhobi---seorang pencuci pakaian. Keledainya kurus, kerempeng. Rupanya tidak pernah cukup makan.

Ketika Rubah melihatnya, dia senang sekali, "Keledai yang kurang makan pasti mudah ditipu".
Rubah mendekati keledai itu, "Salam kawan, kamu koq kurus begitu? Majikanmu pasti pelit sekali, sampai kamu tidak cukup makan."

"Majikanku tahu apa yang baik bagi diriku. Aku pun puas dengan pemberiannya", jawab si keledai.
"Aku pernah mendengar cerita tentang seekor keledai yang senasib denganku. Dia pun kurus, kerempeng karena kurang makan. Dia iri melihat kawanan kuda yang gemuk-gemuk dan selalu cukup makan. Apalagi kuda kuda itu tidak pernah diberi pekerjaan berat.

Dia selalu mengeluh, 'Ya Allah, Ya Rabb apa salahku sehingga menderita terus? Sudah bekerja keras, masih tidak diberi makanan yang cukup. Sementara kuda-kuda itu tidak bekerja sama sekali, seharian malas-malasan di dalam kandang. Makin lama, makin gemuk karena mereka makan terus.'

Sampai pada suatu ketika, kuda-kuda itu digunakan untuk perang. Beberapa di antaranya mati terbunuh. Yang selamat pun tak luput dari luka pedang dan panah.
Si keledai baru mensyukuri nasibnya, 'Lebih baik kurus, kerempeng dan tidak cukup makan daripada ikut perang segala'.

Aku sudah cukup puas dengan apa yang kuperoleh. Cukup-tak cukup, buktinya aku masih hidup. Masih selamat."


Si Rubah tidak putus asa:
"Tuhan berfirman bahwa kita harus berupaya. Apakah kamu sudah berupaya? Jangan-jangan nasibmu itu karena kemalasanmu. Bukan karena Kehendak-Nya."

"Lemahnya iman membuat kita berpikir demikian. Ia yang memberi hidup sudah pasti memberi makan juga," jawab Keledai.

"Hanya seorang wali yang bisa memiliki iman seperti itu. Kau pikir dirimu siapa? Sadarlah," tantang si Rubah.

"Justru itu, aku sedang berupaya untuk mempertahankan kesadaran diri. Puas dengan apa yang kuperoleh. Tidak serakah, tidak mengharapkan yang macam-macam. Aku yakin Dia akan memenuhi kebutuhanku.
Pernahkah engkau mendengar kisah seorang pertapa yang ingin membuktikan hal itu? Dia meninggalkan rumah tanpa bekal. Seorang diri ditengah padang pasir, dia mengharapkan bantuan Yang Maha Kuasa untuk memenuhi kebutuhannya akan makan dan minum.
Sengaja bergeletak di atas pasir yang panas, dia menunggu bantuan Tuhan. Dan betul, tak lama kemudian sekelompok pedagang melewati tempat itu. Melihat seorang pertapa tergeletak diatas pasir, mereka pikir dia pingsan karena lapar. Maka didekatinya pertapa itu dan mereka berupaya untuk 'menyadarkan' dia. Padahal si pertapa sadar sepenuhnya.

Kemudian, ada yang memaksa buka mulutnya. Ada yang memberi dia minum. Ada yang memberi dia sup. Demikian, terbuktilah bahwa Yang Maha Mencipta akan selalu memenuhi kebutuhan ciptaan-Nya.

Lalu apa yang harus saya khawatirkan?" tanya si Keledai.


Si Rubah tidak mau kalah,
"Sudahlah, cerita-cerita seperti itu tak akan mengenyangkan perutmu. Buktinya kamu kurus, kerempeng. Badanmu begitu lemah. Janganlah kamu menyombongkan diri seperti seekor onta yang pernah melihat majikannya mandi di tempat pemandian umum. Ada yang bertanya kepada onta itu, 'Kamu dari mana saja?'
'Dari tempat pemandian umum. Baru selesai mandi.' jawabnya dengan bangga.
'Selesai mandi? Siapa yang ingin kau tipu? Kedua kakimu tidak basah. Tidak menjadi saksi bahwa engkau telah mandi'. Rezeki tidak datang dengan sendiri. Engkau harus berupaya," kata Rubah

"Rezeki datang dari Allah. Dan upaya tertinggi adalah iman pada Allah. Setelah beriman kepada-Nya, upaya apa lagi yang harus kulakukan?"

"Kamu masih bermain dengan kata-kata. Kamu lupa bahwa badan pun adalah pemberian Allah. Dan mengurusi badan menjadi kewajiban setiap makhluk. Kamu malah sebaliknya. Badan dibiarkan melemah. Bunuh diri saja sekalian... Itukah yang ingin kau lakukan? Apakah imanmu mengizinkan hal itu?", teguran Rubah sungguh keras.

Dasar keledai, iman dia mulai tergoyahkan.
Si Rubah licik menyadari hal itu,
"Aku seorang kawan. Yakinilah aku. Apa yang kulakukan semata-mata demi kebaikanmu. Ikutilah aku. Akan kuantar kamu ke padang rumput yang luas sekali. Di sana kamu tak akan pernah kekurangan makanan."

Akhirnya, keledai tergiur juga. Dia lupa memperhatikan badan Rubah yang lebih kurus dari dia. Karena "Kekeladaiannya", "ketidaksadarannya", dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Seharusnya dia menegur Rubah, "Badanmu sendiri kurus, kerempeng. Padang rumput apa yang sedang kau bicarakan? Bantulah dirimu, sebelum membantu orang lain."

Menyingkat kisah, Rubah mengajak keledai ketempat persembunyian Singa. Sang Raja Rimba memang sedang menunggu-nunggu kedatangan mereka. Melihat mangsanya dari jauh, Sang Raja pun tak dapat menahan diri lagi. Dan langsung saja keluar dari tempat persembunyiannya.

Sementara itu keledai juga melihat Singa dari jauh. Dan sambil mencaci-maki Rubah,
"Dasar penipu, kamu ingin menipu aku ya...," dia langsung berlari meninggalkan tempat itu.

Giliran Rubah mengomeli Raja Rimba,
"Apa yang terjadi pada Bagind
a? Kenapa tidak bisa bersabar sedikit?"

"Habis, aku sudah lapar betul. Kupikir, aku bisa berlari cepat dan menerjangnya. Ternyata perhitunganku salah. Aku masih sangat lemah. Belum bisa bertindak cepat."

"Ya sudah. Aku akan berupaya lagi. Tetapi baginda harus bersabar sedikit. Harus bisa menahan diri."

Didatangi lagi Keledai yang sama, "He, kamu kenapa lari?"

"Kenapa lari? Kamu bertanya, kenapa aku lari? Kamu mengantar aku ke tempat persembunyian Singa. Bulat sudah tekadmu untuk mencelakakan diriku. Dan masih bertanya kenapa aku lari?"

"Singa? Dimana ada Singa? Kamu berkhayal. Atau mungkin terpengaruh oleh siluman. Tidak ada singa di sana. Kalau ada, sudah pasti dia menerjangmu. Kamu sudah pasti mati. Ternyata apa? Kamu masih hidup kan? Kamu keliru. Penglihatanmu tidak jernih. Tidak, tidak ada Singa di sana. Aku hampir setiap hari ke sana."

"Sudahlah, jangan menipu aku lagi. Aku memang keledai, bodoh, tetapi tidak sebodoi itu. Sekali tertipu, ya sudah. Aku tak akan tertipu lagi."

"Tipuan apa yang engkau bicarakan? Aku ini temanmu. Lagipula kita tidak pernah bermusuhan. Untuk apa mencelakakan dirimu?"

Keledai tertipu lagi. Sekali lagi, Rubah membawanya ketempat yang sama.
Dalam perjalanan, Keledai sempat sadar juga: "Aku pasti ditipu lagi." tetapi dia pasrah, "Ya sudah...mau diterjang, dimakan Singa, tak apalah. Daripada hidup sebagai keledai..." Dan persis itu pula yang terjadi.

Giliran Rubah menipu Singa. Setelah menerkam mangsanya, Singa meninggalkan bangkai keledai untuk minum air. Rubah yang masih di situ, cepat cepat memakan hati dan jantung keledai. Ketika Singa kembali dan mencari jeroan keledai, ternyata ada yang hilang:
"Dimana hatinya? Dimana jantungnya?"

Rubah menjawab, "Sudah pasti dia tidak memilikinya. Mana ada keledai yang bisa tertipu untuk kedua kalinya? Keledai yang satu ini sungguh tolol. Lain dari yang lain. Tidak sadar, tidak berperasaan, itu sebab dia tidak memiliki hati dan jantung."

Dasar Rubah, Licik!

(Matsnawi, Jalaluddin ar Rumi)

Rabu, 08 Agustus 2012

TENTANG BERPIKIR SEDERHANA

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa
busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah… kijang.
Ia pun membiarkannya berlalu.

Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget.

Spontan ia berteriak, “Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranyapun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga.

Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapat kan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang bergumul dengan pasangan hidup yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat.
Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal tabrak.

Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar anak-Nya dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi semua idealisme kita. Berpikirlah sederhana.

Selasa, 07 Agustus 2012

entah apa dan bagaimana

saya bingung, otak saya tidak dapat berpikir jernih, saya benci dengan kenyataan yang terasa sangat benar ada nya dengan mayoritas masyarakat saat ini, namun ternyata itu bukan lah suatu arti kebenaran sesungguhnya, satu sisi saya meyakini bahwa kebenaran itu memang benar benar ada tapi di satu sisi saya melihat mereka yang memakai jubah kebenaran ternyata cenderung melenceng dari arti kebenaran menurut saya, saya benar benar bingung dan dibuat pusing , kadang saya ingin tahu tapi rasa takut yang sangat besar selalu menghinggapi keingintahuan saya, terasa seperti dibuat pasrah dan tidak berdaya oleh kemampuan adaptasi berpikir saya, saya melihat mereka-saya melihat diri saya-ketidak mampuan saya, semua yang saya fikirkan dan saya benci kenapa selalu berada dan berputar di sekeliling saya..............
ketika saya tidak bisa atau lebih tepatnya disebut putus asa  memikirkan sesuatu yang dekat dengan diri saya, saya mencoba memikirkan hal hal yang berada jauh diluar kendali saya, kenyataan yang kadang terasa benar benar menyiksa,membaca berjuta bualan yang terasa benar benar nyata dan berada jauh di sekeliling saya.
sejauh ini yang saya baca atau bisa saya sebut sebagai ke 'sok tahu-an' saya benar benar terasa benar ada nya, mereka,ya...mereka.... CUKUP..!!

Selasa, 01 Mei 2012

. . .

Hidup memang kadang terasa gak adil buat kita,,,
kadang kita dibuat iri oleh hidup orang lain,

melihat orang lain bahagia saat kita menderita,
melihat orang lain merdeka saat kita terjajah
melihat orang lain tersenyum saat kita menangis
melihat orang lain tertawa saat kita terluka...
melihat orang lain bardiri tegak saat kita hanya mampu duduk bersimpuh,
melihat orang lain berlari saat kita tertatih
melihat orang lain memiliki saat kita kehilangan,
melihat orang lain bebas saat kita tersudut,,,
melihat oreng lain di atas saat kita di bawah,,
melihat orang lain jaya saat kita terpuruk..
melihat orang lain disanjung saat kita dicampakkan,,

tapi percayalah kawan,, hidup ini bagai roda yang terus berputar,,

tak selamanya kita menderita
tak selamanya kita terjajah
tak selamanya kita menangis
tak selamanya kita terluka
tak selamanya kita hanya mampu duduk
tak selamanya kita tertatih.
tak selamanya kita kehilangan
tak selamanya kita tersudut
tak selamanya kita di bawah
tak selamanya kita terpuruk,,,
tak selamanya kita dicampakkan,,

jadi,, tetap jalani hidup ini,, semua pasti akan indah pada waktunya,,,

Minggu, 22 April 2012

go away

when I fell sad in the night
I've seen my past were dying
I feel sun never shine again
to light me and the darkness will come
my false step gone with the shadow
I lost my way and blashphemy
broken faith that never end,have fill my soul that rest in peace
than I stay with out the light,to be close beauty of my life
stillness be friending immortal,living into this live
maybe this is my destiny,that's always hurt's
all hope's are blow away,raise up the loneliness
I wish the angel bring me to fly,for stay out from this pain
my self is my mind,watch me sad and die
come on me endless life
where is my happiness...where is my mind..
when all dream go away and I hopeless
where is my place to go,press on my head
for disappeared this memories..

insomnia

Kadang tidak bisa tidur di malam hari amatlah meresahkan. Mengapa? Saya pikir, karena suasana begitu hening dan saya tidak akan mendengar apa2 lagi kecuali suara saya sendiri. Ah,ya dan tentu saja musik yang masih bertahan siaran,disetel dengan volume paling kecil.Dan jika saya mendengar lebih dalam, ada desahan nafas saya. Lebih dalam lagi, ada degupan jantung, lebih dalam lagi, sepertinya saya bisa mendengarkan otak dan hati saya bercelotehan satu sama lain.memperbincangkan banyak hal.Jika aktivitas sehari tadi masih membayang di ingatan, tentang dunia yang berlari, terburu, chaos dan order dalam tatanan sosial, aturan, toleransi, tawa, tangis, obrolan, kehidupan.Tentu saja saya bisa resah mengkhawatirkan semuanya.Namun bukan untuk itu malam tiba.Justru di saat seperti ini, saya bisa bebas. Mengutip Morning Aroshava dalam 'Sesaat Ketika Malam Tiba' : Night will sets u free..Bebas dari interverensi orang2 di sekitar saya, bebas dari interverensi aturan yang entah mengapa sama2 kita sepakati, bebas dari interverensi waktu yang tak henti memburu. Dan malam, sepenuhnya milik saya. Bebas mengisi aliran detik dan menitnya sesuka saya. Sekedar menghitung bintang, melamun, menulis, dan belajar mendengarkan apa yang otak dan hati saya katakan. Ternyata mendengarkan diri sendiri, begitu menyenangkan. Menulis dalam sepi begitu mengasyikan, hitung2 memperbesar wadah guna menampung ide, gagasan, dan inspirasi yang datang dan menyapa. Insomnia itu membebaskan. Seolah memberi toleransi pada diri sendiri, bahwa sunyi itu, amat dibutuhkan oleh manusia. terutama manusia seperti saya.

Rabu, 28 Maret 2012

by : gus mus

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir
aku harus bagaimana?

kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
kau ini bagaimana?

kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aq plin plan
aku harus bagaimana?

aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
kau ini bagaimana?

kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
aku harus bagaimana?

aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain
kau ini bagaimana?

kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
aku harus bagaimana?

aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya
kau ini bagaimana?

kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
aku harus bagaimana?

aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a'lam bissawab
kau ini bagaimana?

kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku
aku harus bagaimana?

aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
kau ini bagaimana?

kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis
aku harus bagaimana?

kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
kau ini bagaimana?

aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

Senin, 12 Maret 2012

"JANCOK"

kata jancok itu aku gak tau darimana asal muasalnya,yang jelas kata jancok itu identik dengan umpatan,tetapi sebenarnya aku juga tidak tau apakah jika kita bilang jancok kita mendapat dosa,
menurut
KAWOKMEN sih gini;
“JANCOK” itu kata yang sangat berdosa. Tapi engkau kalo gak bilang “JANCOK”, berarti kau bukanlah manusia. Karena hanya manusia yang mempunyai dosa cok!!!! Klo gak kamu katakan tu kata “JANCOK” mungkin gak kan ada neraka. Jadi gak enak sendiri kalo gak da Neraka. Serasa kurang jangkep ja dunia akhirat. Maka katakanlah “JANCOK” sekarang juga"

aku sangat setuju dengan ideologi nya,bahwa manusia lah yang pantas dan hanya bisa mengucap kata jancok,mari coba bayangkan bila anjing bilang jancok?
sangat lah tidak takhayul bgt kn,masak kata guk. . guk. .diganti cok. .cok. .

sejahrawan djancuki pun tidak kalah keatif begini dawuhnya:
ASAL MULANE JANCOK….
BEGINI CERITANNYA…..

Ketika tanggal 10 November, belanda mendarat di Surabaya….
Lalu onok wong Meduro tapi wis suwe manggon omah nang suroboyo, karo wong jowo
suroboyo asli, marani wong londo iku mau…..

mari ngono wong meduro ngomong nang wong londo……
MEDURO : ” raimu sopo Cak ? ”

terus wong londo gak eroh bosone wong meduro

LONDO : ” What is Cak ?”

Terus wong jowo asli suroboyo melu - melu, kata Cak iku diganti Cok….. karepe ben Londo ngerti opo arti kata cak…..

JOWO : Sampeyan SOPO Cok ?
Londo : What ? COK …. Jancok ?
MEDURO : jancok iku opo cok ?
Jowo : iyo CAK kata JANCOK iku opo cak ?
LONDO : Jancok, i dont Know Cok !!!!

mari kejadian iku wong jowo karo meduro suroboyo di kiro diajak perang karo londo…..
Lan gak kakean cangkem, AREK - AREK SUROBOYO PERANG KARO LONDO……
KETIKA PERANG AREK - AREL Suroboyo selalu menggucapkan kata/……

JANCOK LONDO MATI
INDONESIA MERDEKA COK…………..
JANCOK……………….
COK……………..
DOS…………. bansat………………….. COK DOS ASU……………….
JANCOK………….. JANCOK……………………
SEKIAN COK………………

sangat kreatif ideologi nya. .

dan menurut mas DY gini:
Jancok merupakan salah satu dari kata-kata misuh
Falsafah dari misuh sendiri berasal dari kata wisuh atau wasuh yang artinya membersihkan. Maksudnya, misuh adalah ungkapan untuk membersihkan dari kesalahan.
Biasanya secara psikologi bila seseorang misuh, dikarenakan suatu hal yang dianggap keliru, makanya orang itu misuh.
Contoh: apabila kita di’pisuhi’ orang lain, kita jangan langsung marah atau membalas, tetapi kita harus introspeksi diri tentang kekeliruan yang baru kita perbuat."

terakhir marilah kta dukung peredaran kata JANCOK,janganlah biarkan kata jancok iku musnah. .

hidup JANCOK. . .
COOOOOOOOKK. . .COKKK. . .ILOPE U PUL COOK. . .
JFC (Jancok Fans Club)
thx inspirasi nya jancok.com,kretip bgt coook. . .

Minggu, 11 Maret 2012

aku mencintaimu seperti kacamata yang kau pakai
  yang tak pernah kau lihat tapi ada lebih dekat
dari segala macam benda benda di depan mu
serta menata ihwal pandanganmu tentang yang jauh dan dekat

aku menyayangimu seperti kacamata yang kau pakai
yang menampak kan jelas semua kesamaran
namun menyamar dengan rapi di depan mata mu

membuatmu tampak lebih manis diperhatikan

aku menemanimu seperti kacamata yang setia
yang hanya bisa hilang bila kau lupa menaruhnya
atau jatuh dijalan dan tak kau temukan kembali

aku telah mencintaimu seperti semua kacamata
yang hanya dapat kau lihat jelas saat kau lepas
untuk sekedar dibersihkan atau ditinggalkan
DEMI KACAMATA BARU. . .

Senin, 13 Februari 2012

. . .

Beberapa hal seringkali menjadi penghancur
persahabatan antara lain :
1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit)
2. Ketidakterbukaan
3. Kehilangan kepercayaan
4. Perubahan perasaan antar lawan jenis
5. Ketidaksetiaan.
Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan
oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya.

Renungkan :
**Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri
“Dalam masa kejayaan,teman2 mengenal kita,dalam kesengsaraan,kita mengenal teman2 kita.”**

Minggu, 15 Januari 2012

. . . . .

Thats why I dont speculate things in life. Talk is easy,but real life taste like bitter pill that you have to swallow everyday..!!   Reality bites..!!!
and believe me,that feeling sucks...
setiap hari nya aku berusaha keras,just to suck it all up. the problems that I have to go through. . Berusaha keras untuk ga' complain terlalu banyak,ga' cursing terlalu sering dan ga' ngebandingin hidup ku dengan orang-orang lain yang memang lebih beruntung daripada aku. Tapi kadang sudah juga,terutama kalo aku ga' kenal seseorang yang ngalamin masalah masalah sama seperti yang aku rasakan tiap hari. .

Sabtu, 14 Januari 2012

MELACURI MALAM

Kulihat malam yang bersolek di pinggir jalan
Bedak tebal menempel di pipi-pipi rembulan
Gincu hitam menggaris di bibir kering penuh pertanyaan
Sorot lampu kota yang menghunjam di tengah gemulai kehitaman
Menambah gairah mencumbu malam

Angin bersiul meniup selembar daun kering
Terbang meliuk menghias pandang

Di kejauhan yang semakin mendekat
Terdengar gerimis yang bernyanyi
Nyanyian malam tentang para gundik kota yang merana

Malam pun turun pelan menempel di jalan-jalan
Meraba jiwa yang telah mati beberapa menit berlalu
Membangkitkan kembali renjana kehidupan

Malam menjajakan indah tubuhnya kepada tiap pasang mata dan seikat jiwa
Genit memicingkan sebelah mata menggoda
Mencolek daging-daging yang hidup terkurung
Dalam kematian

Ku rebahkan tubuhku di tindihan legam
Hangat belaian hening menyelinap
Selimut tebal tentang kesunyian mendekap erat
Pada tubuh yang terpecah-pecah dalam kepingan kegelisahan

Melacuri malam yang gemulai
Melacuri kedamaian azzali
Adalah pencarian gundukan-gundukan kepuasan insan

$#^&#$@*@%

1.lagi apa ?
OL, garuk2

2.kenapa?
pengen

3.suka warna apa?
 item,putih,

4.nomer hp ?
08**********896

5.perasaan saat ini ?
bosen

6.alasannya ?
karena tidak enjoy

7.film yang disukai?
action.fantasy

8.baju yang sedang di pakai ?
"oleh ngintir tpi g kintir" by........

9. sekarang jam berapa ?
8.55 pm

10.disebelah kamu siapa ?
jin mungkin hihihihiihhihi

11.lagi apa ?
garuk2 t*****t

12.pengen apa saat ini?
pengen hiking

13.hari ini kemana aja ?
ke kampus....................

14.hari ini ngapain aja ?
mandi, makan, ol, nonton video, sholat, boker, :p

15.makanan kesukaan ?
makanan halal

16.binatang kesukaan ?
kucing,burung,

17.kamu anak ke ?
dua

18.dari berapa bersaudara ?
tiga

19.punya ade ? berapa ? namanya ?
sebiji , males, eky

20.punya kaka ? berapa ? namanya ?
sebutir,ike

21.acara tv kesukaan ?
adult only,humor


22.yang diimpi2kan saat ini ?
uang bulanan nambah

23.cita cita kamu ?
kecil dimanja muda terkenal tua kaya raya mati masuk surga

24.tempat favorit ?
kasur,sofa,warung kopi mbok rondo

25. benda fav ?
hp

26.kalo jadi artis ?
susah donk

27.teman kamu siapa aja ?
BANYAK =)

28.sahabat ?
ga da yg khusus

29.kecengan ?
G ad hiks ;-(

31.SMA kamu dimana?
malank aj

32.anak2 sekolah kamu kaya gimana ?
manusia, haha .

33.lagi kangen seseorang ?
G

34.siapa ?
ni orang tanya mulu


35.mantan2 kamu siapa aja ?
lupa

36.hubungan dengan mereka?
1. no contact at all. 2. fine

37.hp kamu merek apa ?
politron

38.tanggal jadian kamu ?
sumpa lupa . hahaha

39.tanggal jadian sama mantan?
ni lgi tambah lupa

40.co yang sms kamu terakhir kali ?
mungen

41.isinya apa ?
REG_NGAPAIN

42.yang sms itu siapa ?
udah tadi kusebut. haha

43.ce yang terakhir kali sms kamu ?
mak gue

44.isinya apa ?
liburan kok g plang

45.yang sms itu siapa ?
mak! gw kan udah bilang.

46.pacar kamu siapa ?
disebut semuanya nih ? hahaha

47.orangnya gimana ?
just so so

48.berapa lama sama dia ?
waduh . =S

49.merasa bersalah sama seseorang ?
g pernah

50.sama siapa ?
,hah. banyak tanya. =S

51.kenapa memangnya ?
tanya lagi gw hajar lo,

52.yang terakir kali ngewall ke kamu ?
ajenk

53.siapa dia ?
mantan, buka aja profilku :p

56.foto yang terakhir kali kamu upload ?
g tau. ehehe

57.punya berapa tv ?
g pnya :p

58.kamu tau anoa ?
tau

59. tau babi ?
makanan yang kadaluarsa

60.ada berapa jumlah murid dikelasmu ?
SMA sih 29 . sekarang 24

61.kamu absen ke...?
13

62.berapa jumlah murid disekolahmu ?
900 kali ya ?

63.ada yang ingin dimakan ?
ada. haha

64.apakah itu ?
nasi sumpe q laper lom makandri td siank.

65.banyak tugas ?
g tau

66.tugas apa saja ?
gk ada kali.

67.pengen liburan ?
ini lagi liburan, terlalu lama

68.kemana ?
rinjani

69.pengen ke suatu tempat ?
pengennnn. sihhh

70.kemana ?
MEKAH, new zealand,Tibet

71.kalo udah di tempat itu mau ngapain ?
ibadah haji lahhh,jalan2,mo belajar jdi ninja kyak batman dund

72.merasa ngantuk ?
not at all

73.besok mau ngapain ?
, tidur....

74.takut kecoa ?
g

senja berhenti menari

Senja kali ini adalah ilusi mega riang menjerat awan adalah kumpulan suram dan sembilu.
Sembilu bertalu-talu. Tanpa hulu bangkitkan bulu-bulu yang tidur pulas,membuka peti terkunci. Sadarkan mimpi. Mimpi dari mimpi aku terjaga dari kolam bayang kegiranganmu menepis rangkaian mawar melilit tubuhmu benamkan cahaya. Suramkan siang ini Burung terperanjat berhenti bernyanyi terpana pada matahari yang malu-malu menyinari bumi Senja kali ini tak lagi menari terjebak dalam suram lingkar bui berduri seperti aku,diriku dan tubuhku yang terjebak dalam kelam matamu. . .
aku ga mau dan ga akan pernah mau dikasihani sama orang lain,dan aku sering menutup diri dari orang lain karena aku ga mau mereka tahu keadaanku,ngerasa kasihan ma aku dan berusaha membuatku lebih baik dengan segala nasehat dan saran mereka yg sebenarnya hanya akan bikin aku ngerasa makin buruk, karena percaya deh,kalian ga akan bisa tau perasaan orang lain itu,sebelum kalian pernah berada di posisi itu sendiri. !!

kori dan melisa

Cinta itu ibarat hulu sungai...ia tak bosan-bosannya memberi, mengaliri air ke hilir. Seperti sinar mentari di bulan Juli...ia hangat tapi mampu membakar diri. Atau laksana sekuntum bunga...—bukan, bukan karena bunga adalah lambang cinta--, tapi karena ia punya masa....kadang mekar, kadang mati.
Malisa menatap dirinya di cermin. Tubuh yang tidak semampai, tidak putih, tidak bersinar. Tapi ia tak peduli. Yang penting ia dicintai Kori. Kori, kekasihnya yang paling ia sayangi. Sedang menuntut ilmu di luar negeri. Nun jauh di sana, di negeri pizza Italia belajar seni. Meninggalkan Malisa seorang diri di sini.
Tiap jengkal tubuh Malisa sudah terjelajahi Kori. Ia jadi merinding sendiri. Tiap inci wajahnya telah ditelusuri. Tiap pori kulitnya telah puas dikecap dan dinikmati. Sekarang sedang apa Kori? Malam ini begitu dingin...membuat tubuh Malisa beku...tapi hatinya masih mengingat Kori. Raganya sedang mendamba Kori. You’re my everything...
Tiba-tiba gadis itu mengingat kembali masa lalu sebelum Kori pergi. Cinta mereka yang tanpa henti. Cinta mereka yang tak mengenal tempat.., di sudut taman, di dalam mobil, di dalam kelas, bahkan di kamar mandi. Semuanya telah dijalani. Awal pertemuan yang tanpa rencana. Kori, si lelaki pujaan seluruh wanita. Jatuh cinta pada Malisa katanya. Malisa hanyut, Malisa terbang, Malisa di atas awan....Malisa tak sanggup menahan segala hasratnya. Tak ada satupun yang ada di dunia ini yang tak ia beri..., pada Kori. You’re my everything...

Napoli, 31 Januari 2004
Akulah Kori. Sedang berjalan dalam dinginnya hembusan angin musim dingin. Sedang menapak di satu kota indah bernama Napoli. Kubilang pada Malisa sedang belajar seni. Tapi kataku pada ibu, aku ingin mengadu nasib di sini. Mana yang benar aku tak peduli. Yang pasti aku hanya ingin pergi.
Akulah Kori. Si tampan yang selalu menawan hati. Tanpa disangka keberuntungan datang menghampiri. Jadi model iklan padahal baru seminggu di sini. Jadi peragawan padahal satu bulan belum sampai terlewati. Bisa terbayangkan bagaimana nasibku suatu saat nanti. Kurang apalagi diriku ini? Karir menjanjikan. Kekasih cantik menawan.
Menawan? Jelas bukan Malisa. Si pendek dan gemuk di Jakarta. Ia telah kutinggalkan di sana, entah untuk berapa lama. Yang menawan bagiku hanya Louisa, kutemukan di Italia. Wajah yang sempurna, tubuh yang menyita mata. Benar-benar kontras dengan Malisa. Entah sedang apa dia di sana. Merindukanku sampai gila. Atau menangis dengan hebatnya. She’s my everything...
Aku ingat betapa Malisa menyukai ketampananku. Sampai-sampai ia menerima kencan hanya dengan sekali ajakan lalu. Sampai-sampai Malisa rela membantu tugas kuliahku. Sampai-sampai Malisa mau sepanjang malam menemaniku. Sampai-sampai Malisa tak kuasa menolak apa yang dipintaku.
Tubuh Kori dan Louisa menempel karena keringat. Keduanya bersimbah cairan kental yang menyengat. Keduanya saling memainkan pasangannya. Ada Louisa yang tak jemunya menggeliat. Ada Kori yang tak hentinya bergerilya. Keduanya sedang terbakar gairah yang menyala. Seperti layaknya cinta, ada yang memberi, ada yang menerima.
Tiba-tiba Kori teringat Malisa. Ada perbedaan yang ia rasakan di sana. Tubuh sempurna Louisa membuat ia benci pada kenangannya bersama Malisa. Membuat ia bertanya-tanya, mengapa dulu rela melakukannya dengan Malisa. Namun sesaat kemudian Louisa mencapai puncaknya, membuat Kori lupa akan segalanya. She’s my everything...

Jakarta, 14 Februari 2004
Malisa termenung merana. Tak ada dering telepon Kori yang dinantikannya. Tak ada pesan masuk dalam telepon genggamnya. Padahal hari ini tepat setahun hari jadi mereka. Gadis itu ingat setahun yang lalu. Saat purnama menampakkan rupanya. Saat melodi memperindah alunan lagunya. Saat itulah Kori membisikkan kata cinta padanya.
Seketika Malisa tak bisa menahan dirinya. Ada getaran hebat di dalam jiwanya. Sudah enam puluh hari Kori meninggalkannya. Sedang apa dia? Merindunya, seperti ia merindunya pula? Tubuh Malisa tak kuasa diam. Ia begitu mendamba kekasihnya. Begitu menginginkan lumatan liar pada bibirnya. Begitu mengharap sentuhan lembut di dadanya. Begitu merindu kehangatan Kori dalam rahimnya. Begitu juga dengan apa yang dirasakan bayi ini, kata Malisa sambil membelai perutnya. Membelai terus hingga ke bawah...ke tempat yang mulai basah. You’re my everything...

Napoli, 1 April 2004
Akulah Kori. Si dewa cinta yang sedang masyuk dengan kekasihnya, Louisa yang tak pernah puas merengkuh tubuhnya. Kali ini Louisa ingin di bawah katanya. Membuatku leluasa memandang surga dunia. Ada sepasang mata cokelat cemerlang di hadapan. Ada uraian rambut mahogany yang menawan. Ada sepasang payudara indah di rengkuhan. Mungil, tapi merekah. Membuat tangan-tanganku tak bosannya menjamah.
Saat memejamkan mata menikmati asmara, Kori kembali melihat Malisa. Kori melihat sepasang mata hitamnya. Ada tatapan rindu di sana. Namun terbersit bara menyala. Ada apa dengan Malisa? Kori tak tahu mengapa sebabnya. Yang ia tahu selama ini Malisa adalah pelayan cintanya. Atau sebagai budak nafsunya.
Apapun yang ia minta pasti Malisa beri. Menyiapkan sarapan paginya. Membawakan bekal makan siangnya. Menuruti selalu saat ia ingin bercinta. Tidak kenal pagi, tak ada siang, dan tak salah malam. Kadang bisa sehari tiga kali mereka melakukannya. Tanpa syarat, tanpa pengaman, tanpa perasaan berdosa. Dan bagi Kori, tanpa cinta.
Ironisnya, saat ini Kori merasa kebalikannya. Ia adalah budak nafsu Louisa. Wanita itu tak henti-hentinya meminta. Wanita itu seakan menganggapnya boneka. Saat kurang liar mencumbu, Louisa menyalahkannya. Saat Kori tak mampu berereksi, Louisa mengancam meninggalkannya. Wanita itu telah membodohi dan membutakannya.
Ia ingat lagi pada Malisa. Ingat betapa manis senyumannya. Ingat betapa mengalah Malisa padanya. Ingat betapa tulus cinta yang dipersembahkannya. Ingat betapa jahat ia meninggalkannya. Malisa, Malisa, maafkan aku, Malisa. Aku akan pulang melihatmu. Aku akan kembali pada pelukmu. Aku akan menciumi lagi bibirmu. Aku akan merasamu sepanjang waktu.
Inilah cinta yang sesungguhnya, Malisa. She’s my everything...

Jakarta, 2 April 2004
Malisa menatap langit-langit kamarnya. Mencari bintang yang takkan bersinar. Mencari bulan yang enggan datang. Mencari jawaban yang tak pernah ada. Dibukanya lebar-lebar daun jendela. Saat itu pula semilir angin malam menyusup ke dalam dadanya. Sejuk ia merasa, sementara gundahnya dibawa oleh hembusan itu ke samudera. Dan seketika pula, Malisa ingin ikut bersamanya.
Malisa melihat lagi bayangannya di depan kaca. Mata yang sembab, dihiasi lingkaran gelap. Tubuh yang utuh tanpa jiwa yang mendekap. Sambil tersenyum ia berkata: cintaku tidak seperti hulu sungai lagi, karena air yang kualiri sudah habis keluar dari kedua mata ini. Cintaku tak seperti mentari bulan Juli lagi, karena hangatnya tak lagi mampu mencairkan tubuhku yang kini kaku membiru. Namun cintaku masih seperti sekuntum bunga, hanya saja masa mekarnya telah tiada. Tinggal mati yang takkan menegakkan kelopak indahnya lagi, bisiknya lirih sambil menancapkan belati ke perutnya.
Membunuh dirinya..., membunuh janin yang dikandungnya..., membunuh cinta pada Kori untuk selamanya...

Tinggalah esok, saat Kori datang memintanya kembali, saat Kori datang untuk mencoba menyirami bunga itu lagi...,niscaya ia hanya akan menemukan sesosok lebih manusia yang telah mati..,
Karena bunga itu sudah terlalu kering untuk sekedar air liur Kori...