Cinta itu ibarat hulu sungai...ia tak bosan-bosannya memberi, mengaliri
air ke hilir. Seperti sinar mentari di bulan Juli...ia hangat tapi mampu
membakar diri. Atau laksana sekuntum bunga...—bukan, bukan karena bunga
adalah lambang cinta--, tapi karena ia punya masa....kadang mekar,
kadang mati.
Malisa menatap dirinya di cermin. Tubuh yang tidak semampai, tidak putih, tidak bersinar. Tapi ia tak peduli. Yang penting ia dicintai Kori. Kori, kekasihnya yang paling ia sayangi. Sedang menuntut ilmu di luar negeri. Nun jauh di sana, di negeri pizza Italia belajar seni. Meninggalkan Malisa seorang diri di sini.
Tiap jengkal tubuh Malisa sudah terjelajahi Kori. Ia jadi merinding sendiri. Tiap inci wajahnya telah ditelusuri. Tiap pori kulitnya telah puas dikecap dan dinikmati. Sekarang sedang apa Kori? Malam ini begitu dingin...membuat tubuh Malisa beku...tapi hatinya masih mengingat Kori. Raganya sedang mendamba Kori. You’re my everything...
Tiba-tiba gadis itu mengingat kembali masa lalu sebelum Kori pergi. Cinta mereka yang tanpa henti. Cinta mereka yang tak mengenal tempat.., di sudut taman, di dalam mobil, di dalam kelas, bahkan di kamar mandi. Semuanya telah dijalani. Awal pertemuan yang tanpa rencana. Kori, si lelaki pujaan seluruh wanita. Jatuh cinta pada Malisa katanya. Malisa hanyut, Malisa terbang, Malisa di atas awan....Malisa tak sanggup menahan segala hasratnya. Tak ada satupun yang ada di dunia ini yang tak ia beri..., pada Kori. You’re my everything...
Napoli, 31 Januari 2004
Akulah Kori. Sedang berjalan dalam dinginnya hembusan angin musim dingin. Sedang menapak di satu kota indah bernama Napoli. Kubilang pada Malisa sedang belajar seni. Tapi kataku pada ibu, aku ingin mengadu nasib di sini. Mana yang benar aku tak peduli. Yang pasti aku hanya ingin pergi.
Akulah Kori. Si tampan yang selalu menawan hati. Tanpa disangka keberuntungan datang menghampiri. Jadi model iklan padahal baru seminggu di sini. Jadi peragawan padahal satu bulan belum sampai terlewati. Bisa terbayangkan bagaimana nasibku suatu saat nanti. Kurang apalagi diriku ini? Karir menjanjikan. Kekasih cantik menawan.
Menawan? Jelas bukan Malisa. Si pendek dan gemuk di Jakarta. Ia telah kutinggalkan di sana, entah untuk berapa lama. Yang menawan bagiku hanya Louisa, kutemukan di Italia. Wajah yang sempurna, tubuh yang menyita mata. Benar-benar kontras dengan Malisa. Entah sedang apa dia di sana. Merindukanku sampai gila. Atau menangis dengan hebatnya. She’s my everything...
Aku ingat betapa Malisa menyukai ketampananku. Sampai-sampai ia menerima kencan hanya dengan sekali ajakan lalu. Sampai-sampai Malisa rela membantu tugas kuliahku. Sampai-sampai Malisa mau sepanjang malam menemaniku. Sampai-sampai Malisa tak kuasa menolak apa yang dipintaku.
Tubuh Kori dan Louisa menempel karena keringat. Keduanya bersimbah cairan kental yang menyengat. Keduanya saling memainkan pasangannya. Ada Louisa yang tak jemunya menggeliat. Ada Kori yang tak hentinya bergerilya. Keduanya sedang terbakar gairah yang menyala. Seperti layaknya cinta, ada yang memberi, ada yang menerima.
Tiba-tiba Kori teringat Malisa. Ada perbedaan yang ia rasakan di sana. Tubuh sempurna Louisa membuat ia benci pada kenangannya bersama Malisa. Membuat ia bertanya-tanya, mengapa dulu rela melakukannya dengan Malisa. Namun sesaat kemudian Louisa mencapai puncaknya, membuat Kori lupa akan segalanya. She’s my everything...
Jakarta, 14 Februari 2004
Malisa termenung merana. Tak ada dering telepon Kori yang dinantikannya. Tak ada pesan masuk dalam telepon genggamnya. Padahal hari ini tepat setahun hari jadi mereka. Gadis itu ingat setahun yang lalu. Saat purnama menampakkan rupanya. Saat melodi memperindah alunan lagunya. Saat itulah Kori membisikkan kata cinta padanya.
Seketika Malisa tak bisa menahan dirinya. Ada getaran hebat di dalam jiwanya. Sudah enam puluh hari Kori meninggalkannya. Sedang apa dia? Merindunya, seperti ia merindunya pula? Tubuh Malisa tak kuasa diam. Ia begitu mendamba kekasihnya. Begitu menginginkan lumatan liar pada bibirnya. Begitu mengharap sentuhan lembut di dadanya. Begitu merindu kehangatan Kori dalam rahimnya. Begitu juga dengan apa yang dirasakan bayi ini, kata Malisa sambil membelai perutnya. Membelai terus hingga ke bawah...ke tempat yang mulai basah. You’re my everything...
Napoli, 1 April 2004
Akulah Kori. Si dewa cinta yang sedang masyuk dengan kekasihnya, Louisa yang tak pernah puas merengkuh tubuhnya. Kali ini Louisa ingin di bawah katanya. Membuatku leluasa memandang surga dunia. Ada sepasang mata cokelat cemerlang di hadapan. Ada uraian rambut mahogany yang menawan. Ada sepasang payudara indah di rengkuhan. Mungil, tapi merekah. Membuat tangan-tanganku tak bosannya menjamah.
Saat memejamkan mata menikmati asmara, Kori kembali melihat Malisa. Kori melihat sepasang mata hitamnya. Ada tatapan rindu di sana. Namun terbersit bara menyala. Ada apa dengan Malisa? Kori tak tahu mengapa sebabnya. Yang ia tahu selama ini Malisa adalah pelayan cintanya. Atau sebagai budak nafsunya.
Apapun yang ia minta pasti Malisa beri. Menyiapkan sarapan paginya. Membawakan bekal makan siangnya. Menuruti selalu saat ia ingin bercinta. Tidak kenal pagi, tak ada siang, dan tak salah malam. Kadang bisa sehari tiga kali mereka melakukannya. Tanpa syarat, tanpa pengaman, tanpa perasaan berdosa. Dan bagi Kori, tanpa cinta.
Ironisnya, saat ini Kori merasa kebalikannya. Ia adalah budak nafsu Louisa. Wanita itu tak henti-hentinya meminta. Wanita itu seakan menganggapnya boneka. Saat kurang liar mencumbu, Louisa menyalahkannya. Saat Kori tak mampu berereksi, Louisa mengancam meninggalkannya. Wanita itu telah membodohi dan membutakannya.
Ia ingat lagi pada Malisa. Ingat betapa manis senyumannya. Ingat betapa mengalah Malisa padanya. Ingat betapa tulus cinta yang dipersembahkannya. Ingat betapa jahat ia meninggalkannya. Malisa, Malisa, maafkan aku, Malisa. Aku akan pulang melihatmu. Aku akan kembali pada pelukmu. Aku akan menciumi lagi bibirmu. Aku akan merasamu sepanjang waktu.
Inilah cinta yang sesungguhnya, Malisa. She’s my everything...
Jakarta, 2 April 2004
Malisa menatap langit-langit kamarnya. Mencari bintang yang takkan bersinar. Mencari bulan yang enggan datang. Mencari jawaban yang tak pernah ada. Dibukanya lebar-lebar daun jendela. Saat itu pula semilir angin malam menyusup ke dalam dadanya. Sejuk ia merasa, sementara gundahnya dibawa oleh hembusan itu ke samudera. Dan seketika pula, Malisa ingin ikut bersamanya.
Malisa melihat lagi bayangannya di depan kaca. Mata yang sembab, dihiasi lingkaran gelap. Tubuh yang utuh tanpa jiwa yang mendekap. Sambil tersenyum ia berkata: cintaku tidak seperti hulu sungai lagi, karena air yang kualiri sudah habis keluar dari kedua mata ini. Cintaku tak seperti mentari bulan Juli lagi, karena hangatnya tak lagi mampu mencairkan tubuhku yang kini kaku membiru. Namun cintaku masih seperti sekuntum bunga, hanya saja masa mekarnya telah tiada. Tinggal mati yang takkan menegakkan kelopak indahnya lagi, bisiknya lirih sambil menancapkan belati ke perutnya.
Membunuh dirinya..., membunuh janin yang dikandungnya..., membunuh cinta pada Kori untuk selamanya...
Tinggalah esok, saat Kori datang memintanya kembali, saat Kori datang untuk mencoba menyirami bunga itu lagi...,niscaya ia hanya akan menemukan sesosok lebih manusia yang telah mati..,
Karena bunga itu sudah terlalu kering untuk sekedar air liur Kori...
Malisa menatap dirinya di cermin. Tubuh yang tidak semampai, tidak putih, tidak bersinar. Tapi ia tak peduli. Yang penting ia dicintai Kori. Kori, kekasihnya yang paling ia sayangi. Sedang menuntut ilmu di luar negeri. Nun jauh di sana, di negeri pizza Italia belajar seni. Meninggalkan Malisa seorang diri di sini.
Tiap jengkal tubuh Malisa sudah terjelajahi Kori. Ia jadi merinding sendiri. Tiap inci wajahnya telah ditelusuri. Tiap pori kulitnya telah puas dikecap dan dinikmati. Sekarang sedang apa Kori? Malam ini begitu dingin...membuat tubuh Malisa beku...tapi hatinya masih mengingat Kori. Raganya sedang mendamba Kori. You’re my everything...
Tiba-tiba gadis itu mengingat kembali masa lalu sebelum Kori pergi. Cinta mereka yang tanpa henti. Cinta mereka yang tak mengenal tempat.., di sudut taman, di dalam mobil, di dalam kelas, bahkan di kamar mandi. Semuanya telah dijalani. Awal pertemuan yang tanpa rencana. Kori, si lelaki pujaan seluruh wanita. Jatuh cinta pada Malisa katanya. Malisa hanyut, Malisa terbang, Malisa di atas awan....Malisa tak sanggup menahan segala hasratnya. Tak ada satupun yang ada di dunia ini yang tak ia beri..., pada Kori. You’re my everything...
Napoli, 31 Januari 2004
Akulah Kori. Sedang berjalan dalam dinginnya hembusan angin musim dingin. Sedang menapak di satu kota indah bernama Napoli. Kubilang pada Malisa sedang belajar seni. Tapi kataku pada ibu, aku ingin mengadu nasib di sini. Mana yang benar aku tak peduli. Yang pasti aku hanya ingin pergi.
Akulah Kori. Si tampan yang selalu menawan hati. Tanpa disangka keberuntungan datang menghampiri. Jadi model iklan padahal baru seminggu di sini. Jadi peragawan padahal satu bulan belum sampai terlewati. Bisa terbayangkan bagaimana nasibku suatu saat nanti. Kurang apalagi diriku ini? Karir menjanjikan. Kekasih cantik menawan.
Menawan? Jelas bukan Malisa. Si pendek dan gemuk di Jakarta. Ia telah kutinggalkan di sana, entah untuk berapa lama. Yang menawan bagiku hanya Louisa, kutemukan di Italia. Wajah yang sempurna, tubuh yang menyita mata. Benar-benar kontras dengan Malisa. Entah sedang apa dia di sana. Merindukanku sampai gila. Atau menangis dengan hebatnya. She’s my everything...
Aku ingat betapa Malisa menyukai ketampananku. Sampai-sampai ia menerima kencan hanya dengan sekali ajakan lalu. Sampai-sampai Malisa rela membantu tugas kuliahku. Sampai-sampai Malisa mau sepanjang malam menemaniku. Sampai-sampai Malisa tak kuasa menolak apa yang dipintaku.
Tubuh Kori dan Louisa menempel karena keringat. Keduanya bersimbah cairan kental yang menyengat. Keduanya saling memainkan pasangannya. Ada Louisa yang tak jemunya menggeliat. Ada Kori yang tak hentinya bergerilya. Keduanya sedang terbakar gairah yang menyala. Seperti layaknya cinta, ada yang memberi, ada yang menerima.
Tiba-tiba Kori teringat Malisa. Ada perbedaan yang ia rasakan di sana. Tubuh sempurna Louisa membuat ia benci pada kenangannya bersama Malisa. Membuat ia bertanya-tanya, mengapa dulu rela melakukannya dengan Malisa. Namun sesaat kemudian Louisa mencapai puncaknya, membuat Kori lupa akan segalanya. She’s my everything...
Jakarta, 14 Februari 2004
Malisa termenung merana. Tak ada dering telepon Kori yang dinantikannya. Tak ada pesan masuk dalam telepon genggamnya. Padahal hari ini tepat setahun hari jadi mereka. Gadis itu ingat setahun yang lalu. Saat purnama menampakkan rupanya. Saat melodi memperindah alunan lagunya. Saat itulah Kori membisikkan kata cinta padanya.
Seketika Malisa tak bisa menahan dirinya. Ada getaran hebat di dalam jiwanya. Sudah enam puluh hari Kori meninggalkannya. Sedang apa dia? Merindunya, seperti ia merindunya pula? Tubuh Malisa tak kuasa diam. Ia begitu mendamba kekasihnya. Begitu menginginkan lumatan liar pada bibirnya. Begitu mengharap sentuhan lembut di dadanya. Begitu merindu kehangatan Kori dalam rahimnya. Begitu juga dengan apa yang dirasakan bayi ini, kata Malisa sambil membelai perutnya. Membelai terus hingga ke bawah...ke tempat yang mulai basah. You’re my everything...
Napoli, 1 April 2004
Akulah Kori. Si dewa cinta yang sedang masyuk dengan kekasihnya, Louisa yang tak pernah puas merengkuh tubuhnya. Kali ini Louisa ingin di bawah katanya. Membuatku leluasa memandang surga dunia. Ada sepasang mata cokelat cemerlang di hadapan. Ada uraian rambut mahogany yang menawan. Ada sepasang payudara indah di rengkuhan. Mungil, tapi merekah. Membuat tangan-tanganku tak bosannya menjamah.
Saat memejamkan mata menikmati asmara, Kori kembali melihat Malisa. Kori melihat sepasang mata hitamnya. Ada tatapan rindu di sana. Namun terbersit bara menyala. Ada apa dengan Malisa? Kori tak tahu mengapa sebabnya. Yang ia tahu selama ini Malisa adalah pelayan cintanya. Atau sebagai budak nafsunya.
Apapun yang ia minta pasti Malisa beri. Menyiapkan sarapan paginya. Membawakan bekal makan siangnya. Menuruti selalu saat ia ingin bercinta. Tidak kenal pagi, tak ada siang, dan tak salah malam. Kadang bisa sehari tiga kali mereka melakukannya. Tanpa syarat, tanpa pengaman, tanpa perasaan berdosa. Dan bagi Kori, tanpa cinta.
Ironisnya, saat ini Kori merasa kebalikannya. Ia adalah budak nafsu Louisa. Wanita itu tak henti-hentinya meminta. Wanita itu seakan menganggapnya boneka. Saat kurang liar mencumbu, Louisa menyalahkannya. Saat Kori tak mampu berereksi, Louisa mengancam meninggalkannya. Wanita itu telah membodohi dan membutakannya.
Ia ingat lagi pada Malisa. Ingat betapa manis senyumannya. Ingat betapa mengalah Malisa padanya. Ingat betapa tulus cinta yang dipersembahkannya. Ingat betapa jahat ia meninggalkannya. Malisa, Malisa, maafkan aku, Malisa. Aku akan pulang melihatmu. Aku akan kembali pada pelukmu. Aku akan menciumi lagi bibirmu. Aku akan merasamu sepanjang waktu.
Inilah cinta yang sesungguhnya, Malisa. She’s my everything...
Jakarta, 2 April 2004
Malisa menatap langit-langit kamarnya. Mencari bintang yang takkan bersinar. Mencari bulan yang enggan datang. Mencari jawaban yang tak pernah ada. Dibukanya lebar-lebar daun jendela. Saat itu pula semilir angin malam menyusup ke dalam dadanya. Sejuk ia merasa, sementara gundahnya dibawa oleh hembusan itu ke samudera. Dan seketika pula, Malisa ingin ikut bersamanya.
Malisa melihat lagi bayangannya di depan kaca. Mata yang sembab, dihiasi lingkaran gelap. Tubuh yang utuh tanpa jiwa yang mendekap. Sambil tersenyum ia berkata: cintaku tidak seperti hulu sungai lagi, karena air yang kualiri sudah habis keluar dari kedua mata ini. Cintaku tak seperti mentari bulan Juli lagi, karena hangatnya tak lagi mampu mencairkan tubuhku yang kini kaku membiru. Namun cintaku masih seperti sekuntum bunga, hanya saja masa mekarnya telah tiada. Tinggal mati yang takkan menegakkan kelopak indahnya lagi, bisiknya lirih sambil menancapkan belati ke perutnya.
Membunuh dirinya..., membunuh janin yang dikandungnya..., membunuh cinta pada Kori untuk selamanya...
Tinggalah esok, saat Kori datang memintanya kembali, saat Kori datang untuk mencoba menyirami bunga itu lagi...,niscaya ia hanya akan menemukan sesosok lebih manusia yang telah mati..,
Karena bunga itu sudah terlalu kering untuk sekedar air liur Kori...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar