::-webkit-scrollbar { height:15px; width: 15px; background: #e6e6fa; } ::-webkit-scrollbar-thumb { background-color: #1F61DB; -moz-border-radius: 12px; border-radius: 12px; }

SEBUAH CERITA MASA LAMPAU

kenangan hanya akan membuat kita tolol ketika mengingat nya.

Minggu, 22 April 2012

insomnia

Kadang tidak bisa tidur di malam hari amatlah meresahkan. Mengapa? Saya pikir, karena suasana begitu hening dan saya tidak akan mendengar apa2 lagi kecuali suara saya sendiri. Ah,ya dan tentu saja musik yang masih bertahan siaran,disetel dengan volume paling kecil.Dan jika saya mendengar lebih dalam, ada desahan nafas saya. Lebih dalam lagi, ada degupan jantung, lebih dalam lagi, sepertinya saya bisa mendengarkan otak dan hati saya bercelotehan satu sama lain.memperbincangkan banyak hal.Jika aktivitas sehari tadi masih membayang di ingatan, tentang dunia yang berlari, terburu, chaos dan order dalam tatanan sosial, aturan, toleransi, tawa, tangis, obrolan, kehidupan.Tentu saja saya bisa resah mengkhawatirkan semuanya.Namun bukan untuk itu malam tiba.Justru di saat seperti ini, saya bisa bebas. Mengutip Morning Aroshava dalam 'Sesaat Ketika Malam Tiba' : Night will sets u free..Bebas dari interverensi orang2 di sekitar saya, bebas dari interverensi aturan yang entah mengapa sama2 kita sepakati, bebas dari interverensi waktu yang tak henti memburu. Dan malam, sepenuhnya milik saya. Bebas mengisi aliran detik dan menitnya sesuka saya. Sekedar menghitung bintang, melamun, menulis, dan belajar mendengarkan apa yang otak dan hati saya katakan. Ternyata mendengarkan diri sendiri, begitu menyenangkan. Menulis dalam sepi begitu mengasyikan, hitung2 memperbesar wadah guna menampung ide, gagasan, dan inspirasi yang datang dan menyapa. Insomnia itu membebaskan. Seolah memberi toleransi pada diri sendiri, bahwa sunyi itu, amat dibutuhkan oleh manusia. terutama manusia seperti saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar