Kadang tidak bisa tidur di malam hari amatlah meresahkan. Mengapa? Saya
pikir, karena suasana begitu hening dan saya tidak akan mendengar apa2
lagi kecuali suara saya sendiri. Ah,ya dan tentu saja musik yang masih
bertahan siaran,disetel dengan volume paling kecil.Dan jika saya
mendengar lebih dalam, ada desahan nafas saya. Lebih dalam lagi, ada
degupan jantung, lebih dalam lagi, sepertinya saya bisa mendengarkan
otak dan hati saya bercelotehan satu sama lain.memperbincangkan banyak
hal.Jika aktivitas sehari tadi masih membayang di ingatan, tentang
dunia yang berlari, terburu, chaos dan order dalam tatanan sosial,
aturan, toleransi, tawa, tangis, obrolan, kehidupan.Tentu saja saya
bisa resah mengkhawatirkan semuanya.Namun bukan untuk itu malam
tiba.Justru di saat seperti ini, saya bisa bebas. Mengutip Morning
Aroshava dalam 'Sesaat Ketika Malam Tiba' : Night will sets u
free..Bebas dari interverensi orang2 di sekitar saya, bebas dari
interverensi aturan yang entah mengapa sama2 kita sepakati, bebas dari
interverensi waktu yang tak henti memburu. Dan malam, sepenuhnya milik
saya. Bebas mengisi aliran detik dan menitnya sesuka saya. Sekedar
menghitung bintang, melamun, menulis, dan belajar mendengarkan apa yang
otak dan hati saya katakan. Ternyata mendengarkan diri sendiri, begitu
menyenangkan. Menulis dalam sepi begitu mengasyikan, hitung2
memperbesar wadah guna menampung ide, gagasan, dan inspirasi yang
datang dan menyapa. Insomnia itu membebaskan. Seolah memberi toleransi
pada diri sendiri, bahwa sunyi itu, amat dibutuhkan oleh manusia.
terutama manusia seperti saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar