::-webkit-scrollbar { height:15px; width: 15px; background: #e6e6fa; } ::-webkit-scrollbar-thumb { background-color: #1F61DB; -moz-border-radius: 12px; border-radius: 12px; }

SEBUAH CERITA MASA LAMPAU

kenangan hanya akan membuat kita tolol ketika mengingat nya.

Minggu, 22 April 2012

go away

when I fell sad in the night
I've seen my past were dying
I feel sun never shine again
to light me and the darkness will come
my false step gone with the shadow
I lost my way and blashphemy
broken faith that never end,have fill my soul that rest in peace
than I stay with out the light,to be close beauty of my life
stillness be friending immortal,living into this live
maybe this is my destiny,that's always hurt's
all hope's are blow away,raise up the loneliness
I wish the angel bring me to fly,for stay out from this pain
my self is my mind,watch me sad and die
come on me endless life
where is my happiness...where is my mind..
when all dream go away and I hopeless
where is my place to go,press on my head
for disappeared this memories..

insomnia

Kadang tidak bisa tidur di malam hari amatlah meresahkan. Mengapa? Saya pikir, karena suasana begitu hening dan saya tidak akan mendengar apa2 lagi kecuali suara saya sendiri. Ah,ya dan tentu saja musik yang masih bertahan siaran,disetel dengan volume paling kecil.Dan jika saya mendengar lebih dalam, ada desahan nafas saya. Lebih dalam lagi, ada degupan jantung, lebih dalam lagi, sepertinya saya bisa mendengarkan otak dan hati saya bercelotehan satu sama lain.memperbincangkan banyak hal.Jika aktivitas sehari tadi masih membayang di ingatan, tentang dunia yang berlari, terburu, chaos dan order dalam tatanan sosial, aturan, toleransi, tawa, tangis, obrolan, kehidupan.Tentu saja saya bisa resah mengkhawatirkan semuanya.Namun bukan untuk itu malam tiba.Justru di saat seperti ini, saya bisa bebas. Mengutip Morning Aroshava dalam 'Sesaat Ketika Malam Tiba' : Night will sets u free..Bebas dari interverensi orang2 di sekitar saya, bebas dari interverensi aturan yang entah mengapa sama2 kita sepakati, bebas dari interverensi waktu yang tak henti memburu. Dan malam, sepenuhnya milik saya. Bebas mengisi aliran detik dan menitnya sesuka saya. Sekedar menghitung bintang, melamun, menulis, dan belajar mendengarkan apa yang otak dan hati saya katakan. Ternyata mendengarkan diri sendiri, begitu menyenangkan. Menulis dalam sepi begitu mengasyikan, hitung2 memperbesar wadah guna menampung ide, gagasan, dan inspirasi yang datang dan menyapa. Insomnia itu membebaskan. Seolah memberi toleransi pada diri sendiri, bahwa sunyi itu, amat dibutuhkan oleh manusia. terutama manusia seperti saya.