::-webkit-scrollbar { height:15px; width: 15px; background: #e6e6fa; } ::-webkit-scrollbar-thumb { background-color: #1F61DB; -moz-border-radius: 12px; border-radius: 12px; }

SEBUAH CERITA MASA LAMPAU

kenangan hanya akan membuat kita tolol ketika mengingat nya.

Rabu, 15 Agustus 2012

Keledai dan Rubah


Apa yang terjadi bila Sang Raja Rimba terluka dan tidak bisa mencari mangsa? Binatang-binatang lain yang malas berburu dan sudah terbiasa makan apa yang disisakan oleh Sang Raja tentu saja ikut menderita pula.

Rubah mendekati Singa, Sang Raja Rimba:
"Apa yang dapat saya lakukan, Baginda?"

"Badanku lemas. Sudah beberapa hari aku terpaksa berpuasa. Bila engkau bisa mencari seekor keledai saja... Setelah memakannya, aku pasti segar lagi. Sehat kembali."

"Baiklah, Baginda. Saya akan mencari keledai. Dengan kelicikan saya, mestinya saya bisa membawanya kemari. Seterusnya, Baginda Harus menerjang dia."

Dan si Rubah pun langsung berangkat mencari seekor keledai. Kebetulan sekali, tidak jauh dari rimba tinggal seorang dhobi---seorang pencuci pakaian. Keledainya kurus, kerempeng. Rupanya tidak pernah cukup makan.

Ketika Rubah melihatnya, dia senang sekali, "Keledai yang kurang makan pasti mudah ditipu".
Rubah mendekati keledai itu, "Salam kawan, kamu koq kurus begitu? Majikanmu pasti pelit sekali, sampai kamu tidak cukup makan."

"Majikanku tahu apa yang baik bagi diriku. Aku pun puas dengan pemberiannya", jawab si keledai.
"Aku pernah mendengar cerita tentang seekor keledai yang senasib denganku. Dia pun kurus, kerempeng karena kurang makan. Dia iri melihat kawanan kuda yang gemuk-gemuk dan selalu cukup makan. Apalagi kuda kuda itu tidak pernah diberi pekerjaan berat.

Dia selalu mengeluh, 'Ya Allah, Ya Rabb apa salahku sehingga menderita terus? Sudah bekerja keras, masih tidak diberi makanan yang cukup. Sementara kuda-kuda itu tidak bekerja sama sekali, seharian malas-malasan di dalam kandang. Makin lama, makin gemuk karena mereka makan terus.'

Sampai pada suatu ketika, kuda-kuda itu digunakan untuk perang. Beberapa di antaranya mati terbunuh. Yang selamat pun tak luput dari luka pedang dan panah.
Si keledai baru mensyukuri nasibnya, 'Lebih baik kurus, kerempeng dan tidak cukup makan daripada ikut perang segala'.

Aku sudah cukup puas dengan apa yang kuperoleh. Cukup-tak cukup, buktinya aku masih hidup. Masih selamat."


Si Rubah tidak putus asa:
"Tuhan berfirman bahwa kita harus berupaya. Apakah kamu sudah berupaya? Jangan-jangan nasibmu itu karena kemalasanmu. Bukan karena Kehendak-Nya."

"Lemahnya iman membuat kita berpikir demikian. Ia yang memberi hidup sudah pasti memberi makan juga," jawab Keledai.

"Hanya seorang wali yang bisa memiliki iman seperti itu. Kau pikir dirimu siapa? Sadarlah," tantang si Rubah.

"Justru itu, aku sedang berupaya untuk mempertahankan kesadaran diri. Puas dengan apa yang kuperoleh. Tidak serakah, tidak mengharapkan yang macam-macam. Aku yakin Dia akan memenuhi kebutuhanku.
Pernahkah engkau mendengar kisah seorang pertapa yang ingin membuktikan hal itu? Dia meninggalkan rumah tanpa bekal. Seorang diri ditengah padang pasir, dia mengharapkan bantuan Yang Maha Kuasa untuk memenuhi kebutuhannya akan makan dan minum.
Sengaja bergeletak di atas pasir yang panas, dia menunggu bantuan Tuhan. Dan betul, tak lama kemudian sekelompok pedagang melewati tempat itu. Melihat seorang pertapa tergeletak diatas pasir, mereka pikir dia pingsan karena lapar. Maka didekatinya pertapa itu dan mereka berupaya untuk 'menyadarkan' dia. Padahal si pertapa sadar sepenuhnya.

Kemudian, ada yang memaksa buka mulutnya. Ada yang memberi dia minum. Ada yang memberi dia sup. Demikian, terbuktilah bahwa Yang Maha Mencipta akan selalu memenuhi kebutuhan ciptaan-Nya.

Lalu apa yang harus saya khawatirkan?" tanya si Keledai.


Si Rubah tidak mau kalah,
"Sudahlah, cerita-cerita seperti itu tak akan mengenyangkan perutmu. Buktinya kamu kurus, kerempeng. Badanmu begitu lemah. Janganlah kamu menyombongkan diri seperti seekor onta yang pernah melihat majikannya mandi di tempat pemandian umum. Ada yang bertanya kepada onta itu, 'Kamu dari mana saja?'
'Dari tempat pemandian umum. Baru selesai mandi.' jawabnya dengan bangga.
'Selesai mandi? Siapa yang ingin kau tipu? Kedua kakimu tidak basah. Tidak menjadi saksi bahwa engkau telah mandi'. Rezeki tidak datang dengan sendiri. Engkau harus berupaya," kata Rubah

"Rezeki datang dari Allah. Dan upaya tertinggi adalah iman pada Allah. Setelah beriman kepada-Nya, upaya apa lagi yang harus kulakukan?"

"Kamu masih bermain dengan kata-kata. Kamu lupa bahwa badan pun adalah pemberian Allah. Dan mengurusi badan menjadi kewajiban setiap makhluk. Kamu malah sebaliknya. Badan dibiarkan melemah. Bunuh diri saja sekalian... Itukah yang ingin kau lakukan? Apakah imanmu mengizinkan hal itu?", teguran Rubah sungguh keras.

Dasar keledai, iman dia mulai tergoyahkan.
Si Rubah licik menyadari hal itu,
"Aku seorang kawan. Yakinilah aku. Apa yang kulakukan semata-mata demi kebaikanmu. Ikutilah aku. Akan kuantar kamu ke padang rumput yang luas sekali. Di sana kamu tak akan pernah kekurangan makanan."

Akhirnya, keledai tergiur juga. Dia lupa memperhatikan badan Rubah yang lebih kurus dari dia. Karena "Kekeladaiannya", "ketidaksadarannya", dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Seharusnya dia menegur Rubah, "Badanmu sendiri kurus, kerempeng. Padang rumput apa yang sedang kau bicarakan? Bantulah dirimu, sebelum membantu orang lain."

Menyingkat kisah, Rubah mengajak keledai ketempat persembunyian Singa. Sang Raja Rimba memang sedang menunggu-nunggu kedatangan mereka. Melihat mangsanya dari jauh, Sang Raja pun tak dapat menahan diri lagi. Dan langsung saja keluar dari tempat persembunyiannya.

Sementara itu keledai juga melihat Singa dari jauh. Dan sambil mencaci-maki Rubah,
"Dasar penipu, kamu ingin menipu aku ya...," dia langsung berlari meninggalkan tempat itu.

Giliran Rubah mengomeli Raja Rimba,
"Apa yang terjadi pada Bagind
a? Kenapa tidak bisa bersabar sedikit?"

"Habis, aku sudah lapar betul. Kupikir, aku bisa berlari cepat dan menerjangnya. Ternyata perhitunganku salah. Aku masih sangat lemah. Belum bisa bertindak cepat."

"Ya sudah. Aku akan berupaya lagi. Tetapi baginda harus bersabar sedikit. Harus bisa menahan diri."

Didatangi lagi Keledai yang sama, "He, kamu kenapa lari?"

"Kenapa lari? Kamu bertanya, kenapa aku lari? Kamu mengantar aku ke tempat persembunyian Singa. Bulat sudah tekadmu untuk mencelakakan diriku. Dan masih bertanya kenapa aku lari?"

"Singa? Dimana ada Singa? Kamu berkhayal. Atau mungkin terpengaruh oleh siluman. Tidak ada singa di sana. Kalau ada, sudah pasti dia menerjangmu. Kamu sudah pasti mati. Ternyata apa? Kamu masih hidup kan? Kamu keliru. Penglihatanmu tidak jernih. Tidak, tidak ada Singa di sana. Aku hampir setiap hari ke sana."

"Sudahlah, jangan menipu aku lagi. Aku memang keledai, bodoh, tetapi tidak sebodoi itu. Sekali tertipu, ya sudah. Aku tak akan tertipu lagi."

"Tipuan apa yang engkau bicarakan? Aku ini temanmu. Lagipula kita tidak pernah bermusuhan. Untuk apa mencelakakan dirimu?"

Keledai tertipu lagi. Sekali lagi, Rubah membawanya ketempat yang sama.
Dalam perjalanan, Keledai sempat sadar juga: "Aku pasti ditipu lagi." tetapi dia pasrah, "Ya sudah...mau diterjang, dimakan Singa, tak apalah. Daripada hidup sebagai keledai..." Dan persis itu pula yang terjadi.

Giliran Rubah menipu Singa. Setelah menerkam mangsanya, Singa meninggalkan bangkai keledai untuk minum air. Rubah yang masih di situ, cepat cepat memakan hati dan jantung keledai. Ketika Singa kembali dan mencari jeroan keledai, ternyata ada yang hilang:
"Dimana hatinya? Dimana jantungnya?"

Rubah menjawab, "Sudah pasti dia tidak memilikinya. Mana ada keledai yang bisa tertipu untuk kedua kalinya? Keledai yang satu ini sungguh tolol. Lain dari yang lain. Tidak sadar, tidak berperasaan, itu sebab dia tidak memiliki hati dan jantung."

Dasar Rubah, Licik!

(Matsnawi, Jalaluddin ar Rumi)

Rabu, 08 Agustus 2012

TENTANG BERPIKIR SEDERHANA

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa
busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah… kijang.
Ia pun membiarkannya berlalu.

Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget.

Spontan ia berteriak, “Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranyapun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga.

Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapat kan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang bergumul dengan pasangan hidup yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat.
Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal tabrak.

Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar anak-Nya dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi semua idealisme kita. Berpikirlah sederhana.

Selasa, 07 Agustus 2012

entah apa dan bagaimana

saya bingung, otak saya tidak dapat berpikir jernih, saya benci dengan kenyataan yang terasa sangat benar ada nya dengan mayoritas masyarakat saat ini, namun ternyata itu bukan lah suatu arti kebenaran sesungguhnya, satu sisi saya meyakini bahwa kebenaran itu memang benar benar ada tapi di satu sisi saya melihat mereka yang memakai jubah kebenaran ternyata cenderung melenceng dari arti kebenaran menurut saya, saya benar benar bingung dan dibuat pusing , kadang saya ingin tahu tapi rasa takut yang sangat besar selalu menghinggapi keingintahuan saya, terasa seperti dibuat pasrah dan tidak berdaya oleh kemampuan adaptasi berpikir saya, saya melihat mereka-saya melihat diri saya-ketidak mampuan saya, semua yang saya fikirkan dan saya benci kenapa selalu berada dan berputar di sekeliling saya..............
ketika saya tidak bisa atau lebih tepatnya disebut putus asa  memikirkan sesuatu yang dekat dengan diri saya, saya mencoba memikirkan hal hal yang berada jauh diluar kendali saya, kenyataan yang kadang terasa benar benar menyiksa,membaca berjuta bualan yang terasa benar benar nyata dan berada jauh di sekeliling saya.
sejauh ini yang saya baca atau bisa saya sebut sebagai ke 'sok tahu-an' saya benar benar terasa benar ada nya, mereka,ya...mereka.... CUKUP..!!